Budaya dan Agama dalam Islam
Rubrik:
Pengetahuan | Oleh: Ahmad El Fatah - 11/12/12 | 10:30 | 27 Muharram 1434 H
dakwatuna.com - Islam adalah agama yang di
ridhai Allah. Sebagaimana termaktub dalam surat al-Maidah, “Pada hari ini telah
Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan
telah aku ridhai Islam sebagai agamamu”. (QS. al-Maidah: 3)1. Bahkan Allah
menguatkan firmanNya di dalam surat al-‘Imran, “Sesungguhnya agama di sisi
Allah ialah Islam”. (QS. al-‘Imran: 19)2. Sejak zaman Rasulullah saw, Islam
disampaikan dengan beragam cara, didakwahkan kepada umat dengan berbagai
metode. Metode tersebut adalah sebuah cara untuk menyampaikan esensi ajaran
Islam sendiri.
Dalam perkembangannya Islam tidak dapat
dipisahkan dengan budaya, bahkan Islam merangkul budaya untuk menyampaikan
ajarannya. Namun, apakah pengertian budaya dan bagaimana Islam memandangnya?
Budaya3 adalah kelakuan yang berlaku pada masyarakat dan lingkungan tertentu.
Dahulu kebiasaan memberikan makanan untuk berhala adalah budaya di kalangan
masyarakat jahiliyah Arab. Namun, setelah Rasul datang beliau mengubah
kebiasaan jahiliyah tersebut, dan menggantikannya dengan ajaran Islam.
Misalnya, kebiasaan memberikan makanan untuk berhala, diganti beliau dengan
mengajarkan bersedekah. Begitu pula pada generasi berikutnya, wali sembilan di
Jawa misalnya. Para wali mengubah kebiasaan atau budaya masyarakat pada saat
itu, dan menggantinya dengan kegiatan yang bernilai ibadah.
Misalnya, sekatenan. Sekaten adalah sebuah
upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari. Konon asal-usul upacara
ini sejak kerajaan Demak. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari
istilah credo dalam agama Islam, Syahadatain. Para pengunjung sekatenan yang
menyatakan ingin “ngrasuk” agama Islam setelah mengikuti kegiatan syiar agama
Islam tersebut, dituntun untuk mengucapkan 2 (dua) kalimat syahadat
(syahadatain). Dalam pengamalannya Islam tidak membumi hanguskan semua budaya
tersebut. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dan budaya. Di mana budaya
menjadi sebuah metode/alat untuk menyampaikan Islam. Contoh yang populer adalah
bagaimana Islam mengajarkan untuk mendoakan kebaikan dan kemenangan di hari
Idul Fitri.
Al Baihaqi mengatakan, “Bab berisi riwayat
tentang ucapan selamat ketika hari ied dengan kata-kata taqabbalallahu minna wa
minka”. Namun, dalam budaya Indonesia biasa digunakan doa “Minal `aidzin wa-l
faizin”. Doa yang biasa diucapkan umat Islam Indonesia pada hari Raya Idul
Fitri, yang kalau diterjemahkan secara lengkap adalah “Semoga Anda termasuk
dari kelompok orang-orang yang kembali kepada fitrah dan berbahagia/beruntung”.
Ucapan selamat atau saling mendoakan ini bukan ibadah mahdhah. Tetapi, termasuk
bagian dari muamalah. Bisa doa apa saja, bisa bahasa apa saja yang penting bisa
dipahami/dimengerti oleh yang diberikan ucapan selamat/doa tersebut. Sehingga,
dalam aplikasinya, metode tersebut tidak merusak esensi Islam sendiri.
Misalnya, bagaimana Sunan Kalijaga mendakwahkan
Islam dengan budaya Jawa waktu itu, yaitu dengan lagu/tembang. Misalnya, pada
tembang ilir ilir. Terdapat filosofis agamis dalam tembang yang notabene adalah
budaya masyarakat Jawa pada waktu itu. Bahkan Maya Hasan, seorang pemain Harpa
dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu
ini. Ilir ilir mengandung arti sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun
dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan
yang telah ditanamkan oleh Allah dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan
dengan tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita,
mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang
untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan
seperti bahagianya pengantin baru.
Sehingga, pada hakikatnya dalam pendakwahannya
Islam justru merangkul budaya untuk menyampaikan esensi ajarannya. Karena,
dengan merangkul budaya, Islam jadi lebih mudah diterima di masyarakat. Budaya
bisa/boleh saja digunakan untuk metode dakwah, selama tidak bertentangan dengan
nilai-nilai dalam Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat
al-Baqarah, “Dan janganlah kau campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan
(janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS.
al-Baqarah: 42)4
Wallahu a’lam bi’l- Showab.
—
Catatan Kaki:
[1] اليوم
أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا
[2] إن الدين
عند الله الإسلام
[3] Kebudayaan adalah seluruh kelakuan, tata
kelakuan dan hasil-hasil kelakuan yang berlaku pada masyarakat dan lingkungan
tertentu. Meskipun banyak sekali pengertian budaya yang diberikan oleh beberapa
ahli, paling tidak sebagaimana diringkaskan oleh Koentjaraningrat ada tujuh
unsur kebudayaan yang bersifat universal, yaitu sistem peralatan dan
perlengkapan hidup, sistem mata pencaharian, sistem religi, sistem bahasa,
sistem ilmu pengetahuan, dan sistem kesenian. Koentjaraningrat, Pokok-Pokok
Antropologi Sosial, (Jakarta, Penerbitan Universitas, 1980), hlm. 7-8.
[4] ولا
تلبسوا الحق بالباطل
sumber:
http://www.dakwatuna.com/2012/12/11/25136/hubungan-budaya-dan-agama-dalam-islam/#axzz2VkME5Slq
Tidak ada komentar:
Posting Komentar